TRANS TV - Menyembuhkan Hati yang Luka, Tawakal, Takwa, dan Sabar | Luka hati, kekecewaan yang mendalam, atau rasa sesak akibat hantaman ujian hidup adalah pengalaman manusiawi yang jamak mengoyak ketenangan jiwa manusia urban maupun rural. Dalam menghadapi kerapuhan batin ini, menyembuhkan hati yang luka tidak ditemukan pada pelarian semu atau hiburan instan yang bersifat sementara. Islam justru mengarahkan kompas spiritual pada penguatan takwa dan penyerahan diri secara total (tawakal) kepada Sang Pencipta sebagai jalan keluar yang hakiki.
Takwa bertindak sebagai jangkar yang menstabilkan hati di tengah badai kesedihan, sementara tawakal menjadi obat penawar yang membasuh perihnya ekspektasi manusia yang patah. Allah SWT memberikan jaminan ketenangan yang mutlak bagi hamba-Nya yang menempuh jalan sunyi ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS At-Talaq ayat 2-3, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." Ayat ini menjadi fondasi kuat bahwa menyembuhkan hati yang luka dimulai dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Menyerahkan segala urusan kepada Allah dalam upaya menyembuhkan hati yang luka bukan berarti bersikap pasif atau menyerah pada keadaan dengan keputusasaan. Ia adalah sebuah bentuk keberanian tingkat tinggi untuk melepaskan beban yang di luar kendali jemari manusia. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hati yang terpaut pada takwa akan melihat setiap ketetapan Takdir dengan kacamata optimisme, sehingga tidak ada celah bagi kesedihan untuk berlarut-larut merusak iman dan menghancurkan harapan.
Keindahan mentalitas seorang mukmin yang telah meraih kedamaian lewat kepasrahan ini digambarkan dalam hadis riwayat Imam Muslim, "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya... Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim). Ketika seseorang melapangkan dada dan berbisik pasrah, "Cukuplah Allah bagiku," saat itulah menyembuhkan hati yang luka sejati dimulai. Luka hati tidak lagi diratapi sebagai kutukan, melainkan disadari sebagai cara Allah membersihkan jiwa dari ketergantungan pada dunia.**