Brownis

Septian Dwicahyo, dari Panggung Teater, Pantomim ke Layar Lebar

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Septian Dwicahyo, dari Panggung Teater, Pantomim ke Layar Lebar | Septian Dwicahyo memulai perjalanan seninya bukan di depan layar film, melainkan di atas panggung teater sejak usia yang sangat muda, yaitu 9 tahun. Kecintaannya pada seni peran berakar dari masa ketika hiburan masih sangat terbatas, dan teater menjadi salah satu tempat utama bagi anak-anak berbakat. "Sebelum terjun ke pantomim, saya lebih dulu ke teater. Dulu film belum ada, dan hiburan juga masih minim. Salah satunya teater, mungkin yang sering dibuat oleh Eyang Titi, Papiko," kenangnya.

Septian Dwicahyo bergabung dengan sanggar Teater Adinda dan rutin mengikuti festival teater anak di Taman Ismail Marzuki. Dari dasar teater inilah, ketertarikan pada pantomim mulai tumbuh, terutama setelah ia menyaksikan pertunjukan pantomim yang saat itu masih tergolong baru dan asing di Indonesia. "Saya melihat, sepertinya lebih tertarik ke sana. Apalagi pada waktu itu mungkin tidak banyak pesaing, semua orang masih asing dengan itu," ujarnya.

Di awal perkembangan pantomim di Indonesia, Septian Dwicahyo belajar langsung dari para pelopor, termasuk almarhum Didi Petet dan Sena, yang turut memperkenalkan seni bisu yang memukau ini. Karir Septian Dwicahyo di dunia akting pun terus berkembang, dengan kemampuannya menghidupkan emosi melalui gerak dan ekspresi. Meskipun ia mampu memainkan berbagai karakter, ia mengaku lebih condong pada peran-peran protagonis.

Ia juga menjelaskan perbedaan teknik bermain di teater dan film, "Secara esensi sama, tapi perbedaannya terletak pada medianya. Di panggung, suaranya harus lebih bulat dan lantang. Namun di film, karena ada mikrofon dan kamera, kita bisa lebih natural," jelasnya. Dalam acara yang sama, Septian Dwicahyo juga berbagi tips akting, menekankan pentingnya penjiwaan dan motivasi dalam setiap karakter, yang menunjukkan dedikasinya pada seni peran sejak dini.**