TRANS TV - Bahaya Mengejar Dunia Secara Berlebihan, Cinta Dunia Membuat Tak Pernah Puas | Mengejar dunia secara berlebihan sering kali menjebak kita dalam labirin ketamakan yang tak berujung. Hal ini membuat kita lupa akan hakikat penciptaan kita sebagai hamba Allah yang seharusnya taat dan bersyukur. Sebenarnya, Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya atau produktif dalam mencari nafkah. Namun, syariat sangat mengecam sikap hubbud dunya, yaitu cinta dunia yang berlebihan, yang bisa melahirkan ambisi buta dan mengabaikan kewajiban spiritual.
Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, memberikan peringatan yang sangat mendalam tentang sifat dasar manusia, "Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah yang kedua. Dan tidak ada yang dapat menyumbat mulutnya (keinginannya) melainkan tanah (kematian)."
Peringatan dari Nabi ini mengungkapkan ilusi kepuasan duniawi. Materi yang dikejar secara berlebihan melalui mengejar dunia secara berlebihan tidak akan pernah membawa ketenangan batin. Sebaliknya, hal itu justru memperbudak jiwa kita dalam kecemasan yang terus-menerus akan rasa kekurangan, membuat kita selalu merasa tidak cukup dan tidak pernah puas.
Sebagai panduan hidup yang adil, Al-Qur'an memberikan formula keseimbangan yang tepat untuk mengatasi masalah terlalu mengejar dunia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 77, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi."
Ayat ini menegaskan bahwa fokus utama seorang mukmin seharusnya adalah pada investasi untuk kehidupan setelah mati (kebahagiaan akhirat). Sementara itu, dunia seharusnya dipandang sebagai ladang sementara untuk beramal, bukan sebagai tujuan akhir yang utama. Hubungan antara ayat ini dan larangan terlalu mengejar dunia mengajarkan kita tentang konsep zuhud yang dinamis. Zuhud bukan berarti hidup dalam kemiskinan atau tidak memiliki harta. Ini adalah keadaan di mana dunia berada di tangan kita untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kebaikan bersama, bukan sebagai sesuatu yang kita sembah dan ratapi jika hilang.
Dengan mengharmonisasikan ajaran-ajaran ini, syariat Islam sebenarnya berusaha menyelamatkan manusia dari kehampaan spiritual akibat terlalu mengejar dunia. Ia mengarahkan kita untuk mencapai kesejahteraan finansial di dunia tanpa harus mengorbankan keselamatan abadi di akhirat. Terlalu mengejar dunia adalah jebakan yang harus diwaspadai oleh setiap Muslim yang mendambakan kebahagiaan sejati di kedua alam.**