Islam Itu Indah

Hubungan Sesama Saudara, Ketika Kelebihan Saudara Disikapi dengan Syukur

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Hubungan Sesama Saudara, Ketika Kelebihan Saudara Disikapi dengan Syukur | Hubungan sesama saudara sedarah adalah ikatan sakral yang seharusnya menjadi benteng penguat, bukan ajang persaingan yang merusak. Namun, sejarah manusia sering mencatat ironi pahit ketika ego dan ambisi duniawi mengubah rahim yang sama menjadi sumber rivalitas tak sehat. 

Dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Yusuf AS menjadi gambaran jelas tentang rapuhnya hubungan sesama saudara saat rasa iri mulai menyusup. Ketika kecemburuan menggerogoti hati saudara-saudara Yusuf, sang ayah, Nabi Ya'qub AS, dengan firasat tajamnya langsung mencium potensi konflik tersebut. Hal ini terjadi setelah Yusuf menceritakan mimpinya tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya. 

Allah SWT berfirman dalam Surat Yusuf ayat 4, "Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya bersujud kepadaku'." Ayat ini menjadi peringatan teologis bahwa kelebihan yang dimiliki seorang saudara, baik berupa harta, prestasi, maupun kedudukan seharusnya disikapi dengan rasa syukur dan perlindungan, bukan dengan hasad atau tindakan menjatuhkan.

Al-Qur'an dan sunah Nabi SAW menuntut hubungan sesama saudara bertransformasi dari sekadar ikatan darah menjadi aliansi spiritual yang penuh kasih dan dukungan. Ketika persaingan tidak sehat dibiarkan menggerogoti internal keluarga, keimanan seseorang patut dipertanyakan. Rasulullah SAW memberikan batasan yang jelas melalui sabda beliau dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

Konsep cinta yang autentik ini menuntut agar setiap saudara ikut bahagia atas pencapaian saudaranya yang lain, serta menjadi pelindung terdepan saat saudaranya sedang terpuruk. Menghidupkan kembali hubungan sesama saudara yang penuh kasih bukan hanya urusan menjaga harmoni di rumah tangga, tetapi juga bentuk ketakwaan yang luhur. Merawat kemurnian hati ini adalah upaya bersama untuk meraih keselamatan di hadapan Allah SWT.**

Photo by Masjid MABA on Unsplash