Favorite Reality Show

DIARY BELLA: Central Market Kuala Lumpur, Pengalaman Belanja Sarat Nilai Sejarah

Video Thumbnail
SHARE

TRANS TV - Central Market Kuala Lumpur, Pengalaman Belanja Sarat Nilai Sejarah | Menyambangi ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, rasanya belum lengkap rasanya tanpa menjejakkan kaki di lantai ubin art deco Central Market Kuala Lumpur, yang oleh warga lokal lebih akrab disapa sebagai Pasar Seni. Berdiri kokoh sejak tahun 1888, bangunan bercat biru laut ini telah menjelma dari pasar basah era kolonial menjadi pusat budaya yang menampung lebih dari 300 gerai kerajinan tangan, tekstil, hingga barang-barang antik. 

Di Central Market Kuala Lumpur, pengunjung tidak sekadar berbelanja. Mereka justru diajak melakukan perjalanan lintas budaya yang merayakan keberagaman etnis Malaysia. Di sini, kamu bisa menemukan deretan batik tulis Terengganu dengan motif halus, ukiran kayu khas suku asli yang sarat makna, hingga perhiasan perak artisan yang pengerjaannya masih dilakukan secara manual. Atmosfernya yang sejuk berkat pendingin ruangan menjadikan Central Market Kuala Lumpur sebagai pelarian sempurna dari teriknya cuaca Malaysia, sembari berburu suvenir otentik yang jauh dari kesan barang pabrikan massal.

Keunikan Central Market Kuala Lumpur semakin terasa saat kita menyusuri pembagian zonanya yang dengan sadar mencerminkan harmoni rasial, Lorong Melayu, Lorong Cina, dan Lorong India. Masing-masing zona menawarkan kekhasan komoditas budaya yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Bagi para kolektor dan pencinta seni, keberadaan Annexe Gallery di bagian belakang pasar sering kali menjadi harta karun tersembunyi. Di sanalah karya seni kontemporer dan barang-barang koleksi langka yang sulit ditemukan di mal-mal modern kawasan Bukit Bintang biasa terpajang. 

Data pariwisata mencatat bahwa Central Market Kuala Lumpur tetap menjadi salah satu destinasi paling banyak dikunjungi di Kuala Lumpur. Lokasinya yang strategis, hanya selemparan batu dari Dataran Merdeka dan kawasan Chinatown, menjadi alasan utamanya. Setelah lelah berkeliling dari satu lorong ke lorong lain, menyeruput teh tarik hangat di food court lantai atas sembari melihat hilir mudik wisatawan mancanegara dan warga lokal menjadi penutup yang manis.**