
TRANS TV - Penjual Kulit Ketupat Lebaran, Ketangguhan di Balik Gelimang Rupiah | Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana di pinggiran pasar tradisional berubah menjadi simfoni anyaman janur yang tak pernah berhenti. Fenomena tahunan ini bukan hanya sekadar tradisi yang diwariskan, tetapi juga menjadi ladang ekonomi musiman yang sangat menguntungkan bagi para penjual kulit ketupat lebaran.
Mereka rela begadang di trotoar demi memenuhi lonjakan permintaan yang melonjak berkali-kali lipat. Seorang perajin yang sudah berpengalaman belasan tahun bisa merangkai satu kulit ketupat dalam waktu kurang dari 40 detik, kecepatan yang sangat dibutuhkan saat pesanan membeludak hingga ribuan butir per hari. Harga jual yang biasanya Rp5.000 per 10 biji bisa melambung menjadi Rp10.000 di puncak Lebaran.
"Puncaknya laku 3.000 butir dalam dua hari," ungkap salah satu penjual kulit ketupat lebaran. Menunjukkan bahwa janur kelapa tetap menjadi komoditas primadona di tengah gempuran gaya hidup serba instan. Omzet jutaan rupiah pun bisa diraih hanya dalam hitungan malam.
Di balik gemerincing rupiah, tersimpan kisah tangguh para penjual kulit ketupat lebaran yang menjadikan lapak dagangannya sebagai rumah sementara, lengkap dengan perbekalan tidur dan hiburan seadanya. Teknik memilih janur tidak boleh sembarangan, para perajin menyarankan untuk mencari daun yang besar dan panjang agar proses penganyaman lebih cepat serta menghasilkan wadah yang kokoh saat diisi beras.
Satu rahasia penting bagi para ibu di rumah adalah cara mengisi beras yang tidak boleh melebihi batas setengah bagian. Hal ini bertujuan agar ketupat matang sempurna dan tidak mentah di tengah akibat pengembangan volume.**