TRANS TV - Tradisi Sintren, dari Pertunjukan untuk Raja Menjadi Tradisi | Bagi para pencinta budaya dan wisatawan haus pengalaman autentik, Sintren adalah salah satu warisan tak benda yang sayang untuk dilewatkan. Berbeda dengan tarian keraton yang terstruktur rapi dan penuh pakem, kesenian ini tumbuh liar dari akar budaya masyarakat pesisir Cirebon, Indramayu, Subang, hingga Pekalongan. Sintren memadukan gerak tari, syair puitis, dan nuansa spiritual yang kental, dengan seorang penari putri sebagai pusat pertunjukan yang dipercaya merasuki roh Dewi Lanjar Sari, penguasa pantai utara menurut kepercayaan lokal. Keunikan ritualnya pun tak ditemukan di tempat lain: sang penari dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang ditutup kain, lalu sang pawang membacakan mantra hingga penari keluar dalam kondisi kerasukan, menari dengan gerakan khas yang terulang-ulang seakan ditarik oleh kekuatan gaib.
Di balik sisi mistis yang melekat kuat, Sintren menyimpan sejarah perjuangan yang tak banyak diketahui wisatawan. Konon, kesenian ini lahir dari akal bulat para pemuda dan abdi setia Pangeran Diponegoro, bernama Seca Branti, untuk mengelabui penjajah Belanda pada abad ke-19. Saat itu, aktivitas berkumpul dan membacakan syair-syair perjuangan dilarang keras, sehingga mereka menyamarkannya dengan pertunjukan tari yang di dalamnya tetap terselip lirik-lirik perlawanan terhadap kompeni. Nama "Sintren" sendiri dipercaya berasal dari kata "sindir" dan "tetaren" yang berarti menyindir melalui syair yang perlu direnungkan maknanya, atau juga dari "si" dan "tren" yang berarti "sang putri", sebuah nama yang menyimpan dua lapis makna sekaligus.
Makna filosofis yang terkandung dalam setiap gerakan Sintren ternyata sangat dalam dan relevan dengan kehidupan modern. Ketika penonton melempar uang ke tubuh penari yang kerasukan dan sang penari tiba-tiba jatuh tersungkur, itu menjadi simbol peringatan bahwa manusia mudah tergoda oleh harta duniawi dan akan tersungkur jika lupa diri. Pesan moral ini disampaikan tanpa menggurui, justru melalui pertunjukan yang menghibur sekaligus menggetarkan. Masyarakat pesisir percaya bahwa pertunjukan Sintren juga berfungsi sebagai tolak bala dan permohonan keselamatan bagi nelayan yang melaut, menjadikannya bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian tak terpisahkan dari ritus kehidupan sehari-hari.
Kini, di tengah gempuran budaya modern dan konten digital yang serba instan, Sintren tetap bertahan dan bahkan mendapatkan pengakuan resmi. Kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019, sebuah langkah penting untuk melindunginya dari kepunahan. Di beberapa sanggar seperti Kencana Ungu di Cirebon, pelestarian dilakukan melalui pendidikan rutin kepada generasi muda dan adaptasi pertunjukan tanpa menghilangkan esensi sakralnya. Bagi Anda yang berkunjung ke kawasan Pantura, menyaksikan pagelaran Sintren di malam hari bukan sekadar tontonan wisata, melainkan ajakan menyelami kearifan lokal yang kaya akan nilai sejarah, spiritualitas, dan pesan moral yang tetap membumi hingga hari ini.**