TRANS TV - Benarkah Daun Katuk Dapat Memperbanyak ASI? | Kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap daun katuk (Sauropus androgynus) sebagai pemicu produksi ASI bukan sekadar cerita turun-temurun, dan sejumlah penelitian awal mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Berbagai studi di Indonesia pada ibu menyusui yang mengonsumsi daun katuk dalam bentuk sayur, air rebusan, kapsul ekstrak, maupun biskuit umumnya melaporkan peningkatan produksi ASI dibanding kelompok pembanding. Sebuah studi kuasi-eksperimental pada 60 ibu menyusui, misalnya, mencatat kenaikan produksi ASI sebesar 262,96 ml pada kelompok katuk, dibanding 126,46 ml pada kelompok kontrol.
Namun, kualitas bukti ini masih terbatas. Sebagian besar studi berskala kecil, tidak semuanya diacak dan dibutakan, dan database laktasi resmi NIH (LactMed) menilai satu studi di antaranya memiliki begitu banyak cacat desain sehingga hasilnya tidak bermakna. Pada uji acak lain yang membandingkan rebusan dengan ekstrak daun katuk, perubahan volume ASI, berat bayi, dan kadar prolaktin pun tidak bermakna secara statistik. Mekanismenya juga belum jelas: dugaan peran senyawa seperti sterol nabati dan alkaloid papaverin dalam memengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin sebagian besar berasal dari penelitian pada hewan, belum terbukti pada manusia.
Yang jarang dibicarakan adalah sisi keamanannya. Papaverin, alkaloid yang disebut-sebut berperan pada efek daun katuk, juga merupakan senyawa yang dicurigai di balik wabah gangguan paru di Taiwan pada 1995, ketika ratusan orang mengalami bronkiolitis obliterans setelah rutin meminum jus katuk mentah untuk menurunkan berat badan. Karena itu, katuk sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan matang dan dalam jumlah wajar, bukan sebagai jus atau ekstrak mentah, dan orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis sebaiknya menghindarinya.
Katuk pun hanya berfungsi sebagai penunjang, bukan pengganti mekanisme alami menyusui. Prinsip dasar laktasi tetap sama: rangsangan paling krusial untuk meningkatkan pasokan ASI adalah frekuensi hisapan bayi (demand and supply), pelekatan yang benar, dan pengosongan payudara secara berkala. Daun katuk memang kaya provitamin A, vitamin B dan C, protein, serta mineral, yang bermanfaat bagi gizi ibu, tetapi belum ada bukti bahwa kandungan itu meningkatkan mutu ASI. Keberhasilan menyusui tetap lebih bergantung pada kecukupan hidrasi, asupan kalori harian, dan kondisi psikologis ibu yang bebas stres.**
Thumbnail photo by xframe.io