Favorite TV Program

JELANG SIANG: Keramat Kubah, Situs Sakral Habitatnya Para Kera

Favorite TV Program
CLOSE
SHARE

TRANS TV - Keramat Kubah, Situs Sakral Habitatnya Para Kera | Situs Keramat Kubah di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, menawarkan pengalaman wisata yang benar-benar unik, perpaduan antara makna spiritual dan interaksi langsung dengan ratusan monyet yang berkeliaran bebas di kawasan tersebut. Terletak di Desa Perdagangan II, Kecamatan Bandar, situs ini diyakini oleh penduduk setempat sebagai tempat yang sakral untuk berdoa dan mempersembahkan persembahan kepada leluhur, sehingga menarik pengunjung dari berbagai latar belakang etnis.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan situs ini didirikan karena tidak ada prasasti atau dokumen sejarah yang dapat dijadikan rujukan. Ada tujuh marga Batak yang memiliki sejarah di sini, seperti Sitorus Poltak, Nainggolan, dan Damanik sebagai bagian dari mereka yang telah berkontribusi pada situs ini. Tidak heran jika Keramat Kubah sering disebut sebagai Keramat Monyet, mengingat monyet ekor panjang adalah penghuni tetap yang selalu menyambut para peziarah dan wisatawan yang datang.

Keunikan Keramat Kubah bukan hanya terletak pada nilai sejarah dan spiritualnya, tetapi juga pada harmoni yang terjalin antara manusia dan satwa liar. Di sini, pengunjung bisa memberi makan pisang kepada kawanan monyet yang bergelantungan di pepohonan rindang, menciptakan pengalaman yang menarik bagi wisatawan, baik lokal maupun dari luar provinsi. Ketua rombongan monyet, yang oleh warga setempat dijuluki "jonggolnya bosnya," sering kali menghibur dengan tingkah lakunya yang lucu, meskipun kadang ada sedikit perdebatan di antara mereka. 

Situs ini, yang konon merupakan bekas ibu kota Kerajaan Nagur yang berdiri sejak abad ke-5 Masehi, juga berfungsi sebagai tempat pelestarian kera, di mana hewan-hewan tersebut hidup bebas tanpa kandang. Bagi mereka yang datang dengan niat tertentu, ada juga bangunan kelenteng kecil di mana warga Tionghoa bisa menyampaikan nazar mereka, sementara masyarakat Batak menggunakan sirih sebagai perlengkapan doa.**