TRANS TV - Apa Sebenarnya Penyebab Sakit Perut? | Sakit perut adalah rasa nyeri yang muncul di area antara tulang rusuk bagian bawah dan lipatan panggul. Sensasinya bisa bervariasi, mulai dari kram, mulas, hingga rasa seperti tertusuk. Dari sudut pandang medis, penyebab sakit perut sangat beragam, dan lokasi nyeri ini sering kali memberikan petunjuk penting bagi dokter dalam mendiagnosis masalah yang mendasarinya.
Nyeri di perut kanan atas bisa jadi tanda adanya masalah pada kantung empedu, batu empedu, infeksi ginjal, atau pankreatitis. Sementara itu, nyeri di perut kanan bawah sering kali dicurigai sebagai radang usus buntu (apendisitis), infeksi saluran kemih, atau gangguan pada ovarium bagi wanita. Untuk nyeri di perut kiri atas, penyebab umumnya bisa meliputi gangguan limpa, batu ginjal, atau radang pankreas.
Sedangkan nyeri di kiri bawah sering dikaitkan dengan masalah usus (divertikulosis), infeksi saluran kemih, atau masalah pada rahim dan indung telur. Bagi wanita, penyebab sakit perut bagian bawah juga sering kali berkaitan dengan kondisi ginekologis seperti nyeri haid (dismenore), endometriosis, kista ovarium, hingga kehamilan ektopik.
Selain melihat dari sudut pandang anatomis, para ahli juga mengelompokkan penyebab sakit perut berdasarkan lamanya gejala. Manual MSD versi konsumen, yang ditinjau oleh dokter-dokter dari Temple University dan Fox Chase Cancer Center, menjelaskan bahwa nyeri perut kronis adalah keluhan yang berlangsung lebih dari tiga bulan, baik itu terus-menerus atau datang dan pergi.
Fenomena ini cukup umum terjadi pada anak-anak berusia 8–12 tahun dan orang dewasa, terutama perempuan. Dr. Jonathan Gotfried, MD, menyatakan bahwa jika setelah tiga bulan evaluasi medis tidak ditemukan kelainan fisik yang jelas, kemungkinan besar pasien mengalami sindrom nyeri perut yang dimediasi secara terpusat. Kondisi ini muncul ketika saraf di saluran cerna dan sumbu usus-otak menjadi terlalu sensitif terhadap sensasi normal, seperti gerakan pencernaan.
Berbagai faktor, mulai dari genetik, stres kehidupan, kepribadian, situasi sosial, hingga gangguan kecemasan atau depresi, disebut-sebut berkontribusi sebagai penyebab sakit perut kronis pada kelompok ini. Penelitian yang dipublikasikan di Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology juga mengonfirmasi bahwa interaksi antara mikroba usus dan sel-sel saraf, serta faktor psikologis seperti stres dan kecemasan, dapat memicu perubahan neuroplastik pada jalur nyeri dari usus ke otak.
Untuk menangani keluhan ini dengan tepat, para ahli menekankan pentingnya diagnosis dini melalui pemeriksaan fisik, pencitraan, dan riwayat medis yang mendetail. Jangan anggap remeh rasa sakit di perut Anda, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.**